Girik Cik: Hambat Monumen Ibu Fat, ‘Nyinggung’ Keluarga Besar

Monumen Ibu Fatmawati Icon Provinsi Bengkulu


Jika Engkau Melihat Keburukan Dalam Perkataanku, Janganlah Engkau Mengikutinya. Jika Satu Bait Diantara Seribu Bait ini Ada yang Menyenangkan Hatimu, Maka Dengan Hati yang Lapang, Tepiskanlah Kesalahan yang Engkau Temukan. (Sa'di)

By: Cik Ben

Kota Bengkulu dari zaman dahulu tenang, damai dan sudah religius. Orang Provinsi Bengkulu cinta akan Ibukota provinsi. Bila tidak senang akan apa yang dibangun dalam negeri bersejarah ini, baiknya diam atau hijrah saja ke provinsi Lain. Itulah cara arif dan bijaksana.

Jangan pula mengadu ulama dan umarah. Ulama dan ulama. Ulama dengan anak dengan keluarga tokoh bangsa. Itu sifat buruk, penghangcur dan pengkhianat. Apalagi dapat  ‘nyinggung’ Presiden RI atau  presiden sebelumnya yang sudah membuat monumen patung pahlawan. Paling tidak mereka sudah berusaha mengingatkan anak bangsa Indonesia dengan pahlawan negeri ini.

“Jangan Panjanglah Muncung daripado Idung”. Apo kerjo baik orang di kecek-kecek. Kelak orang berang, ujung-ujung begadu kelak”, kata  orang Melayu Provinsi Bengkulu  yang Cinta akan  Budaya Tabut dan Ibu Agung Fatmawati.

Sebenarnya Cik tak yakin. Tapi seandainya itu benar soal pernyataan mantan Wakil Gubernur Bengkulu Agusrin, HM Syamlan Lc  yang menyesalkan akan dibangunnya monumen patung  Ibu Agung Fatmawati, di Simpang Lima Ratu Samban Kota Bengkulu. Sulit dipercaya pemberitaan itu. Soalnya tiap pembahasan patung itu sepaket dengan gambar.  Kalau patung dilarang, potret diri kita juga dilarang. Tapi sudahlah, inikan tataran fikiyah.
Monumen Jendral Sudirman

Mengutip berita kata Syamlan, “Itu sesuatu yang kurang pas jika dibangun dengan patung sosok seorang manusia. Apalagi sosok tertentu atau tokoh tertentu. Itu apa tujuannya dibuat? Jika tujuannya dibuat dalam rangka mengundang wisatawan, maka begitulah orang musyrik punya dalilnya membuat patung patung dalam kerangka itu”.

Bila pernyataan itu benar,  namanya tidak mendukung program pemerintah dalam pembangunan sejarah dan kepariwisataan. “Itu sih dong ah.....Wajar saja”.  Hanya saja, itu dapat  ‘nyingung’ keluarga besar Ibu Fatmawati. Soalnya,  para Presiden Republik Indonesia saja membuat monumen atau patung para Pahlawan Negara.
Monumen Pahlawan Patung Cut Nyak Dien. net

Lihatlah di Ibukota Jakarta, monumen Patung Jenderal Besar Sudirman tegak berdiri. Patung Para Pahlawan Revolusi, Ir Soekarno dan banyak lagi di ibukota provinsi lain. Termasuk monumen patung tokoh-tokoh agama. Itu semua mengingatkan kita akan kepahlawanan pembela agama, Tanah Air hingga Indonesia Merdeka.

“Terus terang ajo sanak, Cik Tau Tapi Cik Slow, tapi Cik Pecci Jugo. Nang Cik pikirkan cuman sebuah. Keluargo  keluargo Ibu Agung Fatmawati itu berang kelak cemano? Jangan nyari balak dak,  padeknyo”.


Wartawan Tinggal di Bengkulu

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.