TLB Terapkan Teknologi Pengolahan Limbah Sesuai Standar Baku Mutu Lingkungan



PT Tenaga Listrik Bengkulu (“TLB”) Patuhi Standar-Standar Pelestarian Lingkungan

Bengkulu,Rakjat.com – PT Tenaga Listrik Bengkulu (TLB) sebagai pemilik
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Teluk Sepang Bengkulu terus memastikan
seluruh kegiatan yang berlangsung di PLTU Bengkulu tidak mengganggu lingkungan di
Teluk Sepang dan sekitarnya.

Direktur PT TLB Willy Cahya Sundara menyatakan bahwa perusahaan telah mematuhi
standar-standar pelestarian lingkungan di wilayah Teluk Sepang Bengkulu. “Kami
memiliki Sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan pengolahan limbah udara
yang baik dan sesuai dengan standar yang berlaku. Selain itu kami telah memiliki izin
lingkungan dari pemerintah,” ujarnya.

PT TLB memiliki lima instalasi IPAL. Pertama adalah Wastewater Treatment Plant yang
berfungsi mengolah air limbah dari boiler. Kedua adalah Coal Water Treatment Station
yang berfungsi untuk mengolah air lindi di lokasi stockpile batubara. Ketiga adalah Ash
Water Treatment Station yang berfungsi mengolah air limpasan dari lokasi penumpukan
abu batubara. Keempat adalah Sewage Treatment Plant yang berfungsi mengolah
limbah yang dihasilkan dari kegiatan domestik. Kelima adalah Oily Water Treatment Plant
yang berfungsi untuk mengolah air yang tercampur dengan minyak selama proses
produksi. Air limbah yang telah diolah dibuang menurut ketentuan yang berlaku.
Sementara untuk pengolahan limbah udara, PT TLB menggunakan alat penangkap
debu/abu Electrostatic Precipitator (ESP) untuk menangkap debu maupun abu hasil
pembakaran. Debu atau abu yang berhasil ditangkap akan dibuang ke udara dengan
memenuhi peraturan yang berlaku.

Willy menambahkan, “Kami menyadari bahwa perusahaan harus memberikan perhatian
penting pada lingkungan. Selain aspek tersebut diatur oleh pemerintah, menjaga
kelestarian lingkungan akan membantu perusahaan agar dapat sustain kedepannya.”
Sementara itu, HSE Enginer PT TLB Bengkulu Zulhelmi Burhan mengatakan bahwa
pihaknya setiap hari melakukan pengawasan dan membuat laporan izin lingkungan. Dia
juga menambahkan bahwa adanya isu dugaan adanya limbah dari PLTU dapat
dipertanyakan, sebab saat ini operasional PLTU belum dilakukan dan baru akan dimulai
pada tahun 2020 mendatang.

“Kami secara rutin melakukan pengecekan terhadap limbah yang dikeluarkan. Saat ini di
sekitar area pembuangan banyak terdapat ikan-ikan kecil yang dalam keadaan hidup.


Sebelumnya kami juga telah mengajak pihak Badan Konservasi Sumber Daya Alam
(BKSDA) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Bengkulu untuk
melakukan pengecekan hasil limbah kami, dimana hasil yang didapatkan bahwa hasil
limbah PLTU masih memenuhi baku mutu air yang ditentukan. Jadi jika ditanyakan terkait
pemberitaan apa penyebab kematian penyu yang berkembang kemarin, kami terus
terang tidak tahu dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak BKSDA untuk
mengecekanya di lab,” ujar Zulhelmi.

Hal ini senada dengan keterangan Kabid Pengolahan Sampah, Limbah B3 dan
Pengendalian Pencemaran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bengkulu
Zainubi dalam konferensi pers-nya tanggal 21 November 2019 yang menyatakan bahwa
tidak ditemukan pencemaran limbah dari PLTU Bengkulu. “Hasil uji tidak melebihi baku
mutu sebagaimana dalam ketentuan perundang-undangan,” ujarnya.
Hasil uji sampling menyebutkan bahwa tidak ada indikasi pencemaran limbah dari PLTU
Bengkulu mengingat derajat keasaman (PH) air berada di angka 8,32 dan salinitas masih
dalam angka wajar yaitu 7,4.

Pengakuan Warga Setempat terkait Limbah PLTU

Berdasarkan penuturan Gimin, Warga RT 14 Kelurahan Teluk Sepang Kota Bengkulu
yang merupakan lokasi terdekat dari proyek PLTU Bengkulu, aktivitas pembangunan
PLTU yang telah berlangsung sejak dua tahun terakhir tidak memberikan dampak yang
buruk kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Sampai saat ini belum satupun warga
Teluk Sepang yang mengalami permasalahan kesehatan.

Menanggapi kematian sejumlah Penyu dan Ikan di sekitar area pembuangan air bahang
milik PLTU, Gimin mengatakan sebelum berdirinya PLTU Bengkulu pun dirinya sering
menemukan penyu dan ikan yang mati di Pantai Teluk Sepang. Kematian tersebut
kemungkinan disebabkan akibat aktivitas nelayan yang memasang jaring panjang
ditengah laut.
“Penyu dan ikan mati karena terkena jaring nelayan, setelah mati kemudian terdampar
ke daratan, selain itu penyu juga bisa mati karena tidak bisa membalikkan tubuhnya
akibat gelombang pantai yang tinggi. Selain itu, sampai saat ini masih banyak ditemukan
ikan dengan ukuran yang kecil dan besar disekitar lokasi proyek PLTU. Jadi menurut
saya, kematian Penyu dan Ikan ini akibat ada orang yang sengaja membuang bangkai
penyu dan ikan disana. Mungkin ada orang yang tidak senang dengan PLTU Bengkulu.”
Tuturnya.
Pendapat yang sama turut diungkapkan oleh Surahyati, Warga Teluk Sepang Kota
Bengkulu lainnya. Menurutnya kematian penyu dan ikan memang disengaja dan
direkayasa oleh oknum yang tidak senang dengan keberadaan PLTU Bengkulu. Ia pun
menyarankan agar pihak PLTU memasang kamera CCTV agar bisa mendapatkan bukti
kejahatan tersebut.


“Kami yakin pendapat kematian Penyu akibat limbah PLTU tersebut adalah Fitnah.
Kemungkinan penyu-penyu memang sengaja dibunuh dan ikan memang sengaja
diadakan dan dibeli dari sejumlah nelayan dan disebarkan disekitar lokasi PLTU.
Pasalnya banyak orang sering berkeliaran ke sana bawa karung dan tidak tau apa isinya.”
Tutupnya.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi:
Tim Corporate Communication PT Tenaga Listrik Bengkulu
M.Adityawarman (Cp: 0812 9548 6465)
Erasputranto (Cp: 0822 2110 2369)




Editor : Redaksi
Sumber : Rilis

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.