Skip to main content
Tim Satgas BGN, aktivasi Dapur MBG Rantau Makmur/foto(Hadi su)

BGN Aktivasi SPPG 3T Terpencil di Kabupaten Tanjab Timur

TANJAB TIMUR, JAMBI, Rakjat.com - Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi melakukan aktivasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang merupakan wilayah terpencil di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.

Kegiatan aktivasi tersebut dipusatkan di Desa Rantau Makmur, Kecamatan Berbak pada Rabu (14/10/2026). Dalam kegiatan ini, sebanyak 4 Dapur SPPG 3T Terpencil resmi diaktivasi sekaligus bersamaan secara serentak di dapur lainnya di seluruh Indonesia secara daring dan langsung oleh kepala BGN Pusat. 

Adapun keempat dapur yang diaktivasi di Tanjab Timur tersebut adalah:

1.  SPPG 3T Desa Rantau Makmur

2.  SPPG 3T Desa Telago Limo

3.  SPPG 3T Kelurahan Simpang

4.  SPPG 3T Desa Rawasari

Keempat titik dapur ini akan menjadi pusat penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ribuan siswa dan kelompok rentan di wilayah pesisir dan perbatasan Kecamatan Berbak yang selama ini termasuk kategori wilayah 3T.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Dr. Gunalan, AP., M.Si Direktur Promosi dan edukasi Gizi BGN pusat, Johansyah, S.E., M.E.Sekretaris Satgas Percepatan Program MBG Provinsi Jambi, Kepala Regional Provinsi Jambi,Koordinator Wilayah (Korwil) SPPI Tanjab Timur,Para SPPI Tanjab Timur,Camat Berbak, Polsek Berbak,Kepala Desa Rantau Makmur, Kepala Desa Telago Limo, para Kepala Sekolah, dan tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Johansyah, S.E. M.E,selaku sekretaris Satgas Percepatan Program MBG Provinsi Jambi,menegaskan bahwa aktivasi 4 dapur sekaligus ini merupakan langkah percepatan pemerataan gizi di Tanjab Timur.

"Hari ini sejarah baru untuk Tanjab Timur. BGN resmi mengaktivasi 4 SPPG 3T Terpencil sekaligus. Ini bukti negara hadir sampai ke pelosok.Dari Desa Rantau Makmur, Telago Limo, kelurahan Simpang dan Desa Rawasari, kita pastikan anak-anak kita di wilayah terpencil mendapatkan makanan bergizi yang layak dan higienis setiap hari," tegas sekjen Satgas. 

Ia juga menjelaskan bahwa semua dapur SPPG 3T tersebut telah memenuhi standar higienitas, sanitasi, dan keamanan pangan yang ditetapkan oleh BGN, serta melibatkan tenaga lokal dan bahan baku dari petani dan UMKM setempat. 

"Ini sangat ditunggu oleh masyarakat, melalui karek dan korwil pendataan perlu dilakukan dengan pemuktahiran data, dengan baik. 

"Kami satgas akan tetap melaksanakan pengawasan pada semua dapur yang berada di provinsi Jambi, layani masyarakat dengan baik, karena kita adalah pelayan untuk masyarakat." Jelasnya. 

Semoga dalam waktu dekat, semua dapur dapat di aktifkan, agar pelayanan dan pendistribusian MBG dapat dirasakan secara langsung oleh penerima manfaat. 

"Kami ucapkan selamat atas pengaktifan dapur ini."Tutupnya. 

Dilokasi yang sama,usai pengecekan kondisi bangunan dapur, dalam keterangan Pres rilis oleh Dr.Gunalan, AP., M.Si Direktur Promosi dan edukasi Gizi BGN pusat,menyampaikan bahwa, dalam mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berkualitas terus diperkuat melalui langkah nyata BGN.

Pada hari ini BGN membuka secara serentak 980 dapur SPPG di 16 provinsi, dengan sasaran sebanyak 1,4 juta penerima manfaat.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memperluas akses pemenuhan gizi bagi masyarakat sekaligus memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Perluasan layanan tersebut juga memberikan perhatian khusus kepada wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta daerah dengan prevalensi stunting tinggi.

Sebanyak 980 dapur SPPG tersebut tersebar di 16 provinsi, meliputi Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Bali, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Aceh, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bengkulu, Riau, Jambi, dan Lampung.

Direktur Promosi dan Edukasi Gizi, Gunalan menegaskan kehadiran ratusan dapur SPPG ini sebagai upaya pemenuhan gizi yang merupakan bagian penting dari agenda pembangunan nasional. Dengan sasaran 1,4 juta penerima manfaat, perluasan layanan ini diharapkan semakin mendekatkan akses terhadap makanan bergizi bagi masyarakat di berbagai daerah, termasuk wilayah yang selama ini menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan akses pangan.

Bagi Indonesia, pembangunan generasi unggul tidak hanya ditentukan oleh pendidikan dan kemajuan teknologi, tetapi juga oleh pemenuhan kebutuhan gizi yang baik. Anak-anak yang tumbuh sehat dan memperoleh asupan gizi yang memadai merupakan bagian penting dari investasi jangka panjang untuk mewujudkan Indonesia yang maju, berdaya saing, dan mampu berdiri kokoh di tengah persaingan global.

Wilayah 3T dan daerah dengan prevalensi stunting tinggi menjadi perhatian dalam perluasan layanan SPPG. Kondisi geografis dan tantangan distribusi pangan di sejumlah wilayah membutuhkan pendekatan pelayanan yang mampu menjangkau masyarakat secara lebih dekat. Karena itu, keberadaan SPPG diharapkan dapat mendukung pemerataan akses pemenuhan gizi tanpa memandang letak geografis maupun kondisi daerah.

"Pembukaan 980 dapur SPPG secara serentak di 16 provinsi dengan sasaran 1,4 juta penerima manfaat merupakan langkah nyata untuk memperluas jangkauan pelayanan pemenuhan gizi. Kami ingin memastikan bahwa upaya membangun generasi Indonesia yang sehat dan 

berkualitas menjangkau masyarakat di berbagai wilayah, termasuk daerah 3T dan daerah dengan prevalensi stunting tinggi," ujar Gunalan.

Selain memberikan manfaat bagi penerima layanan, keberadaan dapur SPPG juga diharapkan mampu menggerakkan perekonomian daerah dan membuka lapangan pekerjaan. Pelibatan petani, peternak, nelayan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pemasok pangan lokal dapat memperkuat rantai pasok dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Dengan demikian, program pemenuhan gizi diharapkan tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, masyarakat, dan pelaku usaha menjadi bagian penting untuk memastikan pelaksanaan program berjalan secara berkelanjutan.

"BGN akan terus memperkuat koordinasi dan pengawasan bersama para pemangku kepentingan untuk memastikan setiap SPPG beroperasi sesuai standar yang ditetapkan. Kualitas makanan, keamanan pangan, ketepatan sasaran penerima manfaat, serta keberlanjutan pelayanan menjadi aspek penting dalam mendukung keberhasilan program," ungkap Gunalan.

Pembukaan 980 dapur SPPG di 16 provinsi dengan sasaran 1,4 juta penerima manfaat menjadi bagian dari langkah berkelanjutan untuk memperluas akses pemenuhan gizi di Indonesia. Semangat pemerataan ini mencerminkan tekad bahwa pembangunan bangsa harus berjalan seiring dengan upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

"Dari dapur-dapur pelayanan gizi, harapan untuk Indonesia yang lebih sehat terus dibangun. Sebab, mewujudkan generasi unggul bukan sekadar cita-cita, melainkan investasi bersama untuk masa depan bangsa dan Indonesia yang semakin kuat," tutup Gunalan.(Hadi su) 

Daerah