Tanah Bengkulu dan Kebudayaan Abad ke-III sM Hingga ke-XVI M (264 sM -1575 M)

“Paparkan Apa
Adanya. Jangan Melestarikan Kebohongan Fakta Sejarah Bengkulu”. (BHB)
Terkuak “Sejarah Tanah Bengkulu” pada abad ke-III sM Hingga
ke-XVI M (264 sM -1575 M) telah sampai pada tingkat kebudayaan. Sebagaimana
sebutkan sebelumnya, yaitu aspek kebendaan dan aspek kerohanian.
Peninggalan kebendaan maupun kerohanian cukup banyak untuk diungkapkan.
Dalam masyarakat Bengkulu
klasik, telah ada suatu kepercayaan (Diambil dari ajaran agama Hindhu) dan juga
berlaku bagi pedagang kala itu, bahwa setiap orang wajib menjaga dan
memakai/menggunakan kekayaan alam yang tersedia sesuai dengan kebutuhan. Bagi
setiap orang yang merusak, akan dikenakan sanksi seperti denda.
Pada masyarakat Rha-Hyang
(Rejang) di Lu-Shiangshe (264 sM-198 M) di Wilayah Kabupaten Bengkulu Utara,
telah ada suatu ketentuan (Hukum Sosial) bahwa “Setiap orang yang melakukan
pelanggaran terhadap perusakan Lingkungan dan tanaman milik warga, dikenakan
sanksi diwajibkan membayar/mengganti sebanyak sembilan (9) kali atau hingga
sebanyak 36 kali tanaman yang telah dirusak,
Kewajiban bagi setiap pendulang
emas, baik kelompok atau perorangan menyembeluh seekor kerbau merah
(Kerbau bulu) atau Babi, sebagai persembahan kepada para dewa saat turun
mendulang secara masal. Bagi yang tidak mematuhinya akan dikenakan ‘kutukkan’.
Setiap pengacau (perusak) akan
mati diterkam harimau (Kutukan) atau buaya. Juga mereka yang tidak membayar
atau menyerahkan sebagian keuntungannya (Laba), dinilai sebagai pengacau
(Perusak). Rasa takut yang berlebih-lebihan terhadap kutukan ini, telah membuat
kepatuhan yang tinggi penduduk di Negeri Lu-Shiangshe.
Dalam masyarakat Rha-hyang
(Rejang) di Negeri Lu-Shiangshe, sudah mengenal alat tenun, peralatan rumah
tangga seperti periuk, cawan, paso (Pasu), guci, gelas, piring, belangga dan
sendok yang terbuat dari grabah dan kayu. Telah mengenal dan pandai membuat
alat pertukangan, pertanian dan penangkapan ikan. Alat tukar dalam perniagaan
dengan menggunakan emas.
Pada masyarakat di Negeri Pa-Sh’
(Serapas) Tahun 199 M, Pa-U’ (Pauh) Tahun 199-875 M dan Pa-Liu (Palik) Tahun
204 M, selain telah mengenal usaha pendulangan emas dan batu mulia,
masyarakat telah mengenal usaha pertanian dan perikanan sungai (Air tawar) dan
laut.
Untuk bidang pertanian, selain
bercocok tanam, masyarakat juga berternak babi dan kerbau. Bidang
perikanan air tawar (Sungai), telah ada ketentuan dalam masyarakat wilayah
sungai-sungai yang boleh diambil ikannya (dipanen) dan ada yang dilarang.
Sedangkan dalam bidang perikanan laut, masyarakat telah berkembang dan mampu
membuat perahu-perahu layar dalam ukuran menengah, yang mampu mengarungi
laut lepas hingga ke Mala Dewa (Srilangka) termasuk berlayar ke Phalimbam di
Banten.
Masyarakat Tsa-lu
Pada masyarakat Tsa-Lu (Talo)
Tahun 875 M telah ada suatu kepercayaan di masyarakat Tsa-Lu— Kota
Talo lama yang terletak
dipesisir pantai dan terletak pada posisi tiga
sungai — juga berlaku bagi pendagang masa itu, bahwa setiap pengacau (Perusak)
akan mati diterkam harimau (Kutukan). Mereka yang tidak membayar atau
menyerahkan sebagian keuntungannya (Laba), juga dinilai sebagai pengacau
(Perusak).
Rasa takut yang berlebih-lebihan
ini, telah membuat kepatuhan penduduk di Negeri Tsa-Lu atau yang
juga sering disebut dengan Negeri Hu Men-t—Kuil Hu Men-t (Gerbang
Harimau atau Pintu Masuk (Harimau) dibangun pada Tahun 899 M
disekitar kaki Gunung Dhaempu. Dempo) pada Li Pai San (Hari Rabu)
Pa-Kaw-Ciu’ (899 M), oleh orang Tsa-Lu yang berasal dari
negeri Pa-U’ (Pauh).
Berbagai catatan klasik pelaut
menyebutkan, gadis Tsa-lu tidak saja cantik-cantik, tetapi juga anggun bila
berdandan. Gadis-gadis ini keluar beramai-ramai (Dipekarangan rumah) pada
setiap bulan purnama dengan membawa Lampion (Lentera).
Biasanya berlangsung selama
tujuh hari, tiga hari sebelum bulan purnama dan tiga hari sesudah
bulan purnama. Kegiatan seperti ini menurut mereka, menyongsong bulan purnama
muncul. Ada kepercayaan, bahwa Dewi Kwan-Im akan muncul pada saat-saat purnama
tersebut, maka segala permintaan/keinginan akan terkabul.
Kala itu, juga telah ada
kepercayaan (Keyakinan) masyarakat Tsa-Lu, bahwa Gunung Dha-empu (Dempo)
sebagai pusat kekuatan spiritual. Tsa-Lu memiliki kesenian kerajinan ukiran
(Pemahatan batu dan kayu) dan corak (Motif) yang ditampilkan umumnya masih
berbentuk candi, wihara klasik, bunga teratai, burung bangau, binatang rusa,
dan dewa-dewa (Penguasa alam gaib) seperti Dewi Kwan-Im (Dewi Sri) dan ukiran
harimau dalam bentuk ukiran batu.
Selain itu, masyarakat Tsa-Lu
juga telah mengenal budaya ruatan laut (Sedekahan laut) yang dilakukan pada
setiap Tahun Baru China (Imlek). Masyarakat juga telah pandai membangun
Kuil Chia Huwn (Chia Hun) pada tahun 877 M. Selanjutnya juga membangun sebuah
Kuil Hu Men-t (Gerbang Harimau atau Pintu Masuk Harimau) sekitar kaki Gunung
Dhaempu (Dempo) pada pada Li Pai San (Hari Rabu) Pa-Kaw-Ciu’ (899 M).
Kuil Hu-Men-t berbentuk
terowongan (Lorong) panjang, yang pada setiap sisi jarak antara lima meter,
terdapat dua orang biksu (Shu-Hu) yang saling berhadapan, duduk diantara
lorong. Jumlah biksu atau shu-Hu atau bhanthi(e) dalam satu jajaran atau garis
lorong sembilan orang, dengan demikian total biksu atau shu-Hu atau
bhanthi(e) yang bertugas dan berada di Lorong kuil seluruhnya berjumlah 18
orang.
Panjang Kuil Hu-Men-t
diperkirakan + 45 meter. Sedangkan murid-murid lainnya berada di
luar kuil, tidak diperkenankan masuk. Kuil Hu-Men-t menghadap ke Matahari
terbenam (Barat). Angka 18 (Sh’-Pa) jika dijumlahkan berarti Sembilan. Angka
sembilan adalah merupakan angka keberuntung atau lambang keberuntungan menurut
kepercayaan mereka.
Negeri Tsa-lu
Pusat Perdagangan
Negeri Tsa-Lu (Talo) mengulas tulisan penulis sebelumnya “Pengantar
Sejarah Tsa-Lu (Talo) Pusat Industri Kapal“ adalah satu-satunya kawasan pesisir
barat Pulau Sumatera yang paling maju dan berkembang pesat. Daerah ini
pernah mengalami masa kejayaannya pada Tahun 940 Masehi (Abad ke-X M).
Tsa-Lu merupakan daerah
pengembangan Industri Kapal layar pada Abad ke-IX Hingga ke-XI M (875 -1013 M).
Negeri penghasil rempah berkualitas tinggi. Tsa-Lu tidak saja dikenal
sebagai pusat industri, tetapi juga sebagai pusat perdagangan. Wilayah
merupakan satu-satunya daerah penyanggah perekonomian Pulau Enggano atau
OCOLORE (Pulau Kecewa) sebagai kawasan transit di wilayah barat Nusantara.
Saat itu, Negeri Tsa-Lu dikenal
sebagai daerah penghasil rempah berupa Adas manis dan Fanile berkualitas
terbaik. Karena itu, banyak pedagang asing yang berburu rempah dinegeri ini.
Terutama pedagang yang berasal dari Timur Tengah (Jazirah Arab). Mereka sangat
menyenangi rempah yang berasal dari Negeri Tsa-Lu. Bahkan sebagian negeri ada yang
menyebut dua macam rempah berkualitas tinggi itu dengan kata Tsa-Lu saja.
Seakan kata Tsa-Lu telah berubah (Indentik) menjadi atau sama dengan nama
rempah.
Oleh karena itu penulis
berpendapat, tidaklah mengherankan bila masyarakat Tsa-Lu pada Abad le-X M
telah mengenal sutra China. Gerabah dan tenunan Thailand. Selain negeri
ini sendiri juga merupakan daerah penghasil tenunan (Tenun Tsa-Lu) yang
kualitasnya masih jauh dibawah tenunan Siam (Thailand). Namun Tsa-Lu juga
terkenal sebagai pengembang kebudayaan tradisional, yang banyak dipelajari
orang dari berbagai negeri.
Dari negeri Tsa-Lu inilah
selanjutnya banyak negeri-negeri di Bengkulu (Provinsi Bengkulu) berkembang,
termasuk Kota Bengkulu yang ada sekarang. Berbagai sumber sejarah menyebutkan,
adanya keterkaitan (Hubungan) masyarakat dengan daerah-daerah atau negeri yang
disebut oleh kolonial. Baik Inggris maupun Belanda dalam wilayah Keresidenan
Bengkulu dari Indrapura hinga Krui yang kini masuk wilayah Provinsi Lampung.
Tulisan ini hanya paparan singkat
ituk mengingatkan anak negeri, kalau Bengkulu memang berjaya sejak zaman dahulu
kala.
*Pemerhati Sejarah
Bengkulu/Alumni Universitas Islam Djakarta